Kamu yang Duduk Sendirian

Namanya Askar dari departemen Arsitektur Lanskap. Kami pernah satu kelompok waktu masa OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus), satu setengah tahun lalu. Dia duduk di barisan depan, bersandar pada kursi, menunggu acara seminar tentang pertanian dimulai, menghilangkan jenuh dengan memainkan ponselnya. Kursi kanan-kirinya kosong melompong.

Namaku Adena dari departemen Ilmu dan Teknologi Pangan. Duduk sambil menompang dagu di tengah teman-temanku yang sibuk menggosip tentang Presiden Mahasiswa baru yang super tampan. Tatap mataku berhenti memindai ruangan seminar dengan dinding warna putih bersih waktu melihat seorang laki-laki dengan baju lapang warna hijau. Teman satu kelompok OSPEK-ku dulu. Mau kusapa, tapi jarak kami terlampau jauh (aku duduk di barisan tengah, omong-omong). Lagian, mungkin ingatannya tentang masa itu sudah hancur lebur bak dihantam cairan asam lambung.

Satu-persatu bangku mulai terisi, bagian depan masih melompong, banyak orang memilih duduk di tengah seperti yang dilakukan aku dan dua temanku yang kini menggosip tentang kakak tingkat sedaerahnya yang pandai main biola. Aku mendelik, malas nimbrung. Mataku kembali memindai ruangan seminar yang membuat jemari serasa beku, suhu ruangannya dingin sekali, mungkin ini titik terendah AC-nya. Para panitia dengan kaos warna hitam berlalu-lalang sambil sesekali memijat pelipis atau berkacak pinggang, mungkin masalah internal.

Tiada hal yang menarik lagi selain laki-laki yang masih duduk sendirian dengan baju lapang hijau tentara itu. Kini dia tidak lagi asyik memainkan ponselnya, tapi melipat tangannya di dada. Dia memang bukan tipikal laki-laki yang banyak bicara, tapi selalu gesit melakukan tugas. Perfeksionis. Seperti waktu kami diperintah membuat yel-yel kala itu, Askar yang tadinya cuman diam lalu mengangguk lalu diam lagi dan mengangguk lagi saat yang lain bicara langsung meluncurkan ide brilian dari kepalanya. Hasilnya, kelompok kami dapat pujian dari kakak tingkat meski harus menggadaikan muka dengan rasa malu karena musti berpolah bak bebek yang mengepakkan sayapnya sambil membuat lingkaran.

Mungkin dia tidak tahu dan tidak akan penah tahu kalau kala itu hatiku dibuat luluh. Sosoknya menginspirasi. Dia membuktikan bahwa diamnya seseorang tidak melulu hanya diam atau membiarkan pikirannya melanglang buana, menjelajah imaji, tapi mengumpulkan strategi, otaknya diajak berpikir.

Dua Master of Ceremony acara yang pakai baju tradisional Jawa Barat mulai membuka acara, para peserta yang sibuk akan kegiatannya serempak diam dan membalas sapa. Panitia-panitia berkaos hitam mulai terlihat santai, memantau acara dari belakang. Tepuk riuh menggelagar waktu tokoh pertanian mulai dipanggil mereka. Aku ikut bertepuk tangan, begitu juga Askar.

Waktu yang harusnya kugunakan untuk memenuhi asupan otakku yang haus akan pengetahuan justru dipakai bernostalgia. Semuanya gara-gara cowok yang duduk sendirian itu. Eksistensinya membuat semua fokusku hilang dibawa angin, diseret arus. Sekaligus membuatku cemas, takut-takut ketahuan meliriknya diam-diam oleh dua teman-tukang-gosipku.

Tahu begini aku tidak akan datang dan memilih untuk menyelesaikan setumpuk tugas di kosan sebelum mereka berkembang biak dan jadilah tugasku makin banyak.

***

Acara resmi ditutup waktu Master of Ceremony mengucap salam perpisahan. Kami buru-buru berdiri, sedangkan temanku yang bertubuh agak gempang masih sibuk menguyah (jatah makanan ringan milikku dia embat juga). Sementara temanku yang satu lagi, yang tinggi semampai, sudah ada di lobi depan pintu masuk untuk mengambil sertifikat, lari terbirit karena ngebet kepingin nonton drama korea. Aku menggeleng.

Setelah melewati kerumunan orang yang berdesakan dan antrean yang cukup panjang untuk mengambil sertifikat, akhirnya tiba giliranku. Tapi seseorang dari antrean ebelah kanan mengambil hak milikku, menyerobot tanpa basa-basi. Inginnya aku memprotes sebelum akhirnya mataku kembali mendapati sosok laki-laki yang-tadi-duduk-sendiri sedang mengantre di sebelah kiriku.

Rambutnya hitam legam, matanya berbinar, tubuhnya tinggi semampai; beda dua puluh lima sentimeter denganku. Tak sadar, bibirku mengucap namanya pelan, lalu mengatup cepat-cepat waktu si pemilik nama memalingkan wajahnya.

Dia mengerutkan kening sejemang. “Adena, ya?”

Aku terhenyak, belum sempat menjawab, dia meneruskan kata-katanya.

“Iya, kan? Yang waktu pertama kali kenalan gara-gara telat di hari pertama OSPEK?” katanya sambil mengacungkan jarinya padaku. Aku tertawa kecil. Jatungku berdetak, rasanya mau meledak karena pipiku panas sekali.

Laki-laki itu maju selangkah, kini gilirannya untuk mendapatkan sertifikat dan menandatangani presensi. Hatiku menciut, kecewa. Tapi salam perpisahan yang Askar sajikan dengan senyum manisnya membuatku bergeming sejemang, sampai-sampai lupa kalau kini giliranku mengambil sertifikat.

Kalya Ann; 9 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s